Cerita Sukses Komunikator Ulung Bersama Bayern Munchen

Cerita Sukses Komunikator Ulung Bersama Bayern Munchen

Cerita Sukses Komunikator Ulung Bersama Bayern Munchen

Cerita Sukses Komunikator Ulung Bersama Bayern Munchen

Tidak gampang buat pelatih manapun buat melatih serta bawa kesuksesan kala ditunjuk menanggulangi Bayern Munchen. Klub asal Jerman yang telah berumur 120 tahun ini sarat dengan tradisi hendak pencapaian gelar.

Munchen telah merengkh gelar juara Bundes (Liga Jerman) sebnyak 30 kali. Sedangkan ajang DFB Pokal Die Roten mencapai 20 trofi. Catatan ini merupakan rekor paling banyak buat klub di Jerman.

Sebaliknya di tingkat Eropa, saat sebelum menang 1- 0 atas Paris- Saint Germain pada final Liga Champions 2020, Munchen sempat mengangkut Piala sang Telinga Besar sebanyak 5 kali. Trofi lain sesungguhnya masih banyak. Tetapi buat klub sekelas Munchen, gelar tidak hanya Bundesliga, DFB Pokal, serta Liga Champions dapat dibilang cuma remah- remah rengginang.

Jadi pelatih Munchen otomatis hendak mempunyai kemewahan berbentuk skuat yang bertabur bintang. Tidak heran jika Munchen lalu dijuluki dengan FC Hollywood, merujuk pada pemain bintang yang senantiasa dipunyai regu tersebut.

Tetapi dengan latar balik regu raksasa, tradisi juara, berlimpah duit, serta skuat mentereng, si pelatih pasti dibebani dengan sasaran yang besar. Juara Bundesliga ataupun DFB Pokal saja kadangkala tidak lumayan memuaskan, jika diraih dengan metode sulit payah.

Tingkatan kesusahan si pelatih kian meningkat sebab menanggulangi kumpulan pemain bintang di dunia nyata pasti berbeda dengan jadi manajer di gim Football Manager. Ego besar dari pemain bintang ataupun perseteruan antarpemain( semacam yang sempat terjalin di masa Lothar Matthaus- Juergen Klinsmann), merupakan perihal yang wajib dialami pelatih Munchen.

Pengganti Niko Kovac

Tidak butuh kandas jadi juara di akhir masa. Penampilan di lapangan yang kurang baik, plus hasil kekalahan di sebagian laga saja telah lumayan buat manajemen Munchen buat memecat pelatih. Perihal itu yang dirasakan pelatih asal Kroasia, Niko Kovac, yang pula sempat bermain buat Munchen di tahun 2000- 2003.

Mantan pelatih Timnas Kroasia serta Eintracht Frankfurt itu mempersembahkan gelar Bundesliga, DFB Pokal, serta Luar biasa Cup Jerman 2019 di masa pertamanya. Tetapi pada masa kedua, Kovac terpecat usai Munchen dipermak Eintracht Frankfurt 1- 5, pada minggu ke- 10 Bundesliga, November 2019. Dikala itu Munchen terdapat di posisi 4, tertinggal 4 poin dari pemimpin klasemen sedangkan, Borussia Monchengladbach.

Walaupun baru merambah minggu ke- 10, keadaan Munchen dikala itu sangat tidak kondusif. Game Robert Lewandowski dkk. tidak lezat dilihat. Munchen nampak belum normal sehabis ditinggal pemain yang tadinya jadi pilar berbagai Franck Ribery, Arjen Robben, serta Matt Hummels.

“ Dalam waktu yang pendek pelatih baru wajib dapat membuat Munchen berganti, jadi regu yang memainkan sepak bola atraktif. Menciptakan pelatih semacam itu semacam menciptakan batu permata,” kata Jupp Heynckes, pelatih yang bawa Munchen mencapai gelar treble di masa 20212/ 2013.

Nama Massimiliano Allegri serta Mauricio Pochettino pernah mengapung. Normal, sebab mereka pelatih top yang jobless. Tetapi manajemen Munchen malah mengangkut Hans- Dieter Flick, yang tadinya jadi asisten pelatih Kovac, jadi pelatih kepala dengan status caretaker.

Hansi, sapaan akrabnya, memanglah bukan orang yang asing. Semasa masih bermain, dia sempat 5 masa berkostum Munchen pada 1985- 1990. Hansi turut mengantar Munchen mencapai 4 gelar Bundesliga serta satu DFB Pokal.

Tetapi perkaranya, Hansi telah lama tidak jadi pelatih kepala. Terakhir kali dia jadi pelatih kepala merupakan dikala menanggulangi 1899 Hoffenheim pada periode 2000- 2005. Pada masa awal, dia mengantar Hoffenheim menjuarai Divisi 4 serta promosi. Tetapi prestasinya cuma sebatas itu saja. Hansi kandas membuat klubnya promosi ke Divisi 3 di 4 masa selanjutnya serta kontraknya tidak diperpanjang Hoffenheim.

Sehabis itu, dia setelah itu bekerja bagaikan asisten pelatih legendaris Italia, Giovanni Trapattoni, serta Lothar Matthaus di Red Bull Salzburg. Di klub Austria itu, Hansi bekerja bagaikan Direktur Sport.

“ Bekerja di dasar Trapattoni mengarahkan aku banyak perihal, paling utama soal taktik serta membangun kedekatan dengan pemain. Tetapi aku tidak seluruhnya sesuai dengan taktik bertahan Trapattoni,” ucap Hansi.

Asisten Pelatih Timnas

No comments yet! You be the first to comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked *